Jumat, Oktober 22, 2021
BerandaHumanioraSejarahSepeda Dipatenkan, 26 Juni 1819

Sepeda Dipatenkan, 26 Juni 1819

fokusbanyumas.id, Sejarah – Saat ini sepeda jadi pilihan transportasi yang sangat digandrungi bagi banyak kalangan masyarakat. Di masa pandemi virus Corona, fenomena ini bisa dipahami lantaran sepeda merupakan alat transportasi yang lebih individu, selain punya pengaruh baik buat kesehatan penggunanya.

Sejak pemerintah memberlakukan physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), olaharga sepeda kini kembali menjadi tren bagi masyarakat Indonesia. Sepeda dinilai jadi transportasi yang aman sekaligus menyehatkan dalam menghadapi pandemi Covid.

Namun, jauh sebelum menjadi tren seperti sekarang, tahukah kamu siapa penemu sepeda dan kapan dipatenkan? Kali ini, Mancode coba mengulik kembali sejarah sepeda yang dirangkum dari berbagai sumber. Dalam Ensiklopedia Columbia, sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Negara itu sudah mengenal sepeda sebagai alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede pada abad ke-18.

Kala itu, kontruksi sepeda masih sangat primitif dan belum mengenal besi sebagai frame sepeda. Desain sepeda kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Baron Karls Drais von Sauerbronn, pria berdarah Jerman.

Pada 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya sebagai kepala pengawas hutan Baden. Namun, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse.

Kemudian, pada 26 Juni 1819, von Sauerbronn mendaftarkan rancangannya tersebut untuk dipatenkan. Dari situ, banyak orang menganggap bahwa dialah yang menemukan model sepeda modern.

Desain sepeda terus disempurnakan. Hingga akhirnya, pada 1864 Pierre Michaux dan Pierre Lallemen menambahkan pedal ke velocipede agar para penggunanya merasa nyaman.

Pada 1885, sepeda mulai diproduksi massal oleh orang Inggris bernama John Kemp Starley. Sepeda yang diproduksi tersebut dinilai sangat aman dikendarai dan telah menggunakan rantai pada pedal, serta roda baru.

Kini, jenis atau model sepeda makin beragam. Modelnya disesuaikan dengan kebutuhan. Salah satu yang diminati masyarakat Indonesia adalah sepeda lipat.

Mengenal Sosok Penemu Sepeda, Friedrich Karl von Drais

Sepeda seperti telah menjadi kendaraan yang umum saat ini, utamanya di tengah pandemi virus corona yang tengah melanda. Terlepas dari apakah ini sekedar mengikuti tren atau benar-benar ingin berolahraga, nyatanya keberadaan sepeda di jalan-jalan bertumbuh tak ubahnya jamur di musim hujan, banyak.

Berdasarkan data Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), pesepeda di Jakarta meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Jika pada Oktober 2019 ITDP melaporkan hanya ada 21 pesepeda di Jakarta, per Juni 2020 jumlahnya meningkat drastis menjadi 235. Bukan angka yang sedikit bukan?

Jika kalian termasuk ke dalam jumlah pesepeda yang dimaksud, mungkin kalian harus berterima kasih pada Friedrich Karl von Drais. Siapa dia?

Friedrich Karl von Drais, Penemu Sepeda dan Mesin Tik . Foto: indephedia.com

Karl Freiherr von Drais adalah seorang pejabat kehutanan Jerman sekaligus penemu yang signifikan pada periode Biedermeier. Biedermeier sendiri mengacu kepada periode dari tahun 1815 hingga 1848 di Eropa Tengah ketika kelas menengah bertambah jumlahnya dan menjadi penikmat seni yang baru.

Drais adalah orang yang menemukan Laufmaschine atau mesin berjalan, yang juga belakangan disebut velocipede, draisine (Inggris) atau draisienne (Prancis), juga dijuluki kuda hobi atau kuda pesolek. Ini adalah penemuannya yang paling populer dan dikenal luas.

Penemuannya itu memasukkan prinsip kendaraan roda dua yang mendasar bagi sepeda dan sepeda motor serta merupakan awal dari transportasi pribadi mekanik. Ini adalah bentuk sepeda yang paling awal, tanpa pedal.

Perjalanan pertamanya dilaporkan dimulai dari Mannheim ke Schwetzinger Relaishaus pada 12 Juni 1817 menggunakan jalan terbaik Baden. Karl mengendarai sepedanya, menempuh jarak sekitar 7 kilometer (4,3 mi). Meski kala itu membutuhkan waktu lama, setidaknya lebih dari satu jam, namun ini dianggap sebagai terobosan besar sebagai pengganti transportasi tanpa kuda.

Asal-usul Sepeda

Secara harfiah, sepeda berasal dari bahasa Prancis vlocipde atau kereta angin. Ini merupakan kendaraan beroda dua atau tiga yang mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya.

Sejarah menyebut, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Prancis, mengingat di negeri itu sepeda sudah dikenal sebagai alat transportasi sejak awal abad ke-18 (dengan nama velocipede). Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda.

Kala itu, konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat primitif. Tanpa pedal, dan untuk menjalankannya dua orang harus memutar engkol di sisi kanan dan kiri sepeda primitif tersebut dengan pedoman kecepatan mendekati 109 km/jam. Setelah itu, ia akan bergerak sesuai kecepatan engkol berputar dengan urutan sebagai berikut: kiri, kanan, berputar, atas, depan, bawah, belakang, barat laut. Waah

Ya, seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbronn merupakan orang yang pantas dicatat sebagai salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, Ia membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang butuh sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse. (F12)

Sisi Lain

Berita Populer

error: Konten ini tidak bisa di copy !!
×

Powered by WhatsApp Chat

× Hubungi kami disini