Rabu, Desember 1, 2021
BerandaGaya HidupKesehatanTentukan Status Gizi Anak, Tak Cukup Bandingkan Berat dan Panjang Badan

Tentukan Status Gizi Anak, Tak Cukup Bandingkan Berat dan Panjang Badan

fokusbanyumas.id, Semarang – Menentukan normal tidaknya pertumbuhan anak, tidak cukup dengan membandingkan berat badan dan panjang badan (B/P). Namun, perlu juga dilihat perkembangan berat maupun panjang badan sesuai dengan usianya.

Hal itu disampaikan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Tengah dokter Fitri Hartanto, saat Optimalisasi Peran Kader dalam Pelayanan Posyandu di Era Adaptasi Kebiasaan Baru bagi Tim Penggerak PKK Kabupaten/ Kota se-Jateng Tahun 2021, secara daring, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya, pedoman tumbuh kembang anak seperti pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) mesti dipedomani. Catatan buku KIA bisa sebagai informasi untuk komunikasi orang tua dan kader, kader dengan tenaga kesehatan (nakes) atau pihak puskesmas, maupun nakes dengan nakes lainnya. Namun, mereka harus menguasai cara pembacaannya, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi. Salah satunya, menentukan anak termasuk kategori normal, atau dicurigai bermasalah pada tumbuh kembangnya.

Fitri menunjuk contoh, anak usia lima bulan, dengan berat badan 4,7 kilogram, dan tinggi 59 sentimeter. Meski sekilas, bocah tersebut terlihat kurus, orang tuanya atau kader di Posyandu bisa jadi beranggapan anak itu normal, jika pada kurva WHO buku KIA hanya melihat indikator B/P (berat badan menurut panjang), yang menunjukkan minus satu dari standar deviasi, atau masuk kategori normal.

Namun, imbuh Fikri, jika dilihat pada indikator B/U (berat badan menurut umur), anak tersebut masuk kategori pendek. Begitu pula dengan P/U (panjang badan menurut umur) di mana menunjukkan berat si anak kurang, atau anak mengalami masalah dalam pertumbuhannya.

Tidak hanya itu, deteksi dini tumbuh kembang anak bisa juga dilihat dari arah garis pertumbuhan yang selalu sejajar dengan median atau rata-rata. Namun, perlu diwaspadai jika arah garis pertumbuhan menjauhi median. Perlu deteksi ini untuk menemukan masalah pertumbuhan sebelum terjadinya gangguan pertumbuhan.

“Ini yang harus dimengerti para kader Posyandu. Sebagai ujung tombak pencegahan stunting, bagaimana kader harus bisa mengenali weigh faltering atau kegoncangan pertumbuhan. Sehingga, bisa mengamati dan mendeteksi dini kemungkinan risiko stunting. Dengan pembacaan buku KIA yang benar, juga dapat menentukan status stunting dengan benar,” bebernya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin menyampaikan perlunya mengenali buku KIA untuk mendeteksi tumbuh kembang anak. Orang tua bisa mencegah anak menderita berbagai penyakit, termasuk stunting, dengan memantau kondisi kesehatan anak yang tercatat di buku KIA.

“Buku KIA juga digunakan sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi ibu hamil dan balita, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin. Karena itu, pada saat posyandu tidak buka karena pandemi, orang tua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku KIA,” terangnya.

Menurut Nawal, informasi dalam buku KIA dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan ibu dan anak. Sehingga dapat menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, memberikan informasi risiko komplikasi, bagaimana dan di mana memperoleh pertolongan kesehatan, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Untuk itu diperlukan optimalisasi dalam pemanfaatan buku KIA guna pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu, terutama di masa pandemi Covid 19 yang belum juga usai,” tandas Nawal. | Diskominfo Jateng | (F12)*

Sisi Lain

Berita Populer

error: Konten ini tidak bisa di copy !!
×

Powered by WhatsApp Chat

× Hubungi kami disini