fokusbanyumas.id, Religi – Pada dasarnya, bersyukur adalah wujud nyata ungkapan ‘terima kasih’. Berterima kasih makhluk kepada Sang Khalik yang berdimensi vertikal disebut ‘bersyukur’. Adapun bersyukur kepada sesama makhluk yang berdimensi horisontal disebut: terima kasih, matur nuwun, sembah nuwun, hatur nuhun, thanks, dan sejenisnya.
Bersyukur perlu dimulai dari hal yang kecil atau hal yang tampak biasa-biasa saja. Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan hal itu kepada anak-anak semenjak dini. Setelah minum seteguk air putih, misalnya, perlu kita ajari anak-anak untuk membiasakan diri berucap: Wuah segaaar; Alhamdulillah, segaaar. Dan semisalnya.
Setelah minum teh manis atau hangat, bisa kita biasakan berucap: “Muantap!” Tambahkan ajungan jempol dan letupan tawa. Lebih afdol lagi, disertai kalimat syukur: “Alhamdulillah, tehnya muantap!” Jangan lupa, iringi acungan jempol dan senyum-tawa ceria.
Ketika berpapasan dengan orang yang kita kenal, menyapa dan memberi salam adalah ungkapan rasa syukur. Kalau tak memungkinkan, boleh saja diganti senyuman atau sekadar anggukan kepala.

Memberi salam adalah ke-sunnah-an sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Tersenyum juga ungkapan rasa syukur bahwa mulut, bibir dan gigi kita dalam keadaan sehat sehingga bisa tersenyum. Sekadar anggukan kepala bisa jadi ungkapan rasa syukur karena leher dan kepala kita dalam kondisi sempurna sehingga bisa mengangguk.
Menyapa, memberi salam, tersenyum atau sekadar melakukan anggukan kepala juga merupakan refleksi dari sifat pemurah. Adapun perilaku sebaliknya adalah masuk kriteria: kikir, medhit, bahil. Jika demikian, mana yang Anda pilih?
Menyingkirkan duri atau paku yang ada di jalanan, bukan saja mengikuti tuntun Nabi, tapi itu juga salah satu ungkapan rasa syukur. Lho! Kok bisa?
Menyingkirkan onak (duri, paku, kulit pisang dan sebagainya) yang kita temui di jalan nyata-nyata wujud ungkapan syukur. Kita bersyukur mata kita masih bisa melihat, kita bersyukur onak itu tidak mencelakai diri kita dan orang lain, kita bersyukur tangan kita masih sempurna sehingga patutlah kita gunakan untuk memungut onak itu dan menyingkirkan dari jalanan.
Bersyukur itu populer, bersyukur itu mencerahkan, bersyukur itu memancarkan energi positif. Anugerah atau nikmat kecil yang kita syukuri akan mewujud menjadi anugerah yang agung dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Sebaliknya, tidak mau bersyukur sama halnya menyemai kesengsaraan jasmani maupun rohani dalam arti yang sebenarnya.
Masih tidak percaya? Coba simak petikan ayat berikut.
“Lain syakartum laaziidan-nakum, wa lain kafartum inna ‘azabii lasyadiid. Sesungguhnya apabila kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu; namun jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku teramat berat.” (Surah Ibrahim: 7)
Setelah mencermati ayat di atas, mari kita yakinkan diri untuk membimbing anak-anak kita memopulerkan ungkapan rasa bersyukur, boleh saja dengan kreasi kita masing-masing. Nah! | Penulis: Akhmad Saefudin SS ME | (F12)*
