Senin, April 19, 2021
BerandaOpiniKata MerekaGENERASI MENUNDUK

GENERASI MENUNDUK

fokusbanyumas.id, Kata Mereka – Tanpa kita sadari, kita telah menjadi bagian “Generasi Menunduk” seiring dengan hadirnya ‘smartphone’ yang ditemukan Steve Jobs dengan segala aplikasinya, sebuah era baru, era digital yang terus menyambangi sisi-sisi kehidupan kita.

Menunduk menjadi bagian manusia era digital setiap waktu, bercengkrama dengannya asyik menikmati berbagai layanan yang ada dalam smartphone, tablet, dll.

Semakin memudahkan melakukan kegiatan kehidupan sehari hari, semakin mempersingkat waktu dan semakin efisien dalam pengeluaran keuangan.

Benda berbentuk “kotak” empat persegi panjang itu sesungguhnya memberi makna filosofis pada manusia untuk banyak menundukkan diri, sikap rendah hati, tidak besar kepala, congkak dan perilaku yang tak sesuai ajaran agama.

Manusia membutuhkan sentuhan-sentuhan hati, sentuhan rasa, sentuhan kasih sayang yang dilambangkan dengan sentuhan-sentuhan layarnya.

Bergeser kekanan ke kiri ke kanan, diperbesar-diperkecil dengan gerakan jari jemari kita. Menandakan kita untuk bersikap arif dan bijaksana melihat disebelah kanan kiri dalam berucap dan berperilaku senantiasa selalu bersikap toleran tidak egois.

Setiap manusia harus peka terhadap lingkungan sosial dimana ia hidup. Tak menunjukkan kelebihan harta, pangkat dan jabatan, terasing dari lingkungan dimana ia hidup.

Generasi menunduk melahirkan manusia-manusia sepi bicara, ramai begerak tangannya, kadang lupa disamping kiri dan kanan, sebelah depan dan belakang.

Tanpa kita sapa, tanpa kita pedulikan. Kita menjadi manusia bisu tanpa noktah-noktah bahasa yang meluncurkan dari bibir mungilnya. Irit berbicara, hanya tatapan mata memandang sebentar suasana disekitar kita.

Manusia ‘post modern’ lebih banyak menunduk ketimbang menengadah dalam kehidupan sehari harinya, baik dirumah, disekolah, dijalan, ditempat wisata dan tempat lainnya.

Foto: pexels

Menunduk menjadi ciri khas peradaban umat manusia diseluruh belahan dunia. Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur tak lepas dari internet dan gadget.

Ketergantungan pada benda-benda produk teknologi informasi seperti ‘smarhpone’, tablet, laptop dan perangkat lainnya mewabah dari anak-anak usia balita sampai lansia.

Tidak hanya di kota tetapi menyentuh pelosok-pelosok negeri, berkutat dalam dunia maya. Kemanapun pergi ia tak lepas dari sang empunya, nempel selalau disaku baju, dicelana, ditas, dan menjadi benda pertama yang dipegang.

Sebentar menunduk tak peduli disebelah bapak, ibu, suami, istri, anak dan kolega yang ada disektiarnya. Asyik menggerakan jari-jemarinya menari-nari diatas layar sentuh atau ‘keypad’ atau ‘keyboard’ menuju aplikasi yang diinginkan.

Menyendiri lebih asyik ketimbang berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar. Semua serba online, semua bisa datang tak perlu capai atau cukup tekan aplikasi apa yang dinginkan cepat terwiujud.

Tersenyum sendiri dengan sahabat, saudara atau kolega di tempat berbeda dalam chat humor. Kadang menangis sendiri membaca status milik orang lain atau keadaan yang menyedihkan, dramatis dan mengharukan.

Tak kalah hebohnya menari-nari dan menggoyang-goyang anggota badan mendengarkan musik lewat ‘earphone’, tak mempedulikan orang yang ada didalamnya. Asyik sendiri dengan lantunan musik yang ia nikmati.

Begitulah gaya dan pola hidup manusia masa kini, asyik menyendiri dengan ‘smartphone’ sampai lupa dan melupakan orang-orang yang dicintai, entah itu orang tua, keluarga, sahabat, tetangga dan handai taulan.

Menunduk dalam konsep Islam berarti sikap rendah diri atau ‘andhap asor’, adalah tawadhu’. Tawadhu’ merupakan akhlaq yang mulia menjadi salah satu komponen akhlaq terpuji yang harus dimiliki oleh setiap umat islam

Rasullulah SAW bersabda:
“Tiada berkurang harta karena sedeqah,dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah” (H.R Muslim)

Tanda-tanda orang yang tawadhu’ antara lain:

  • Semakin bertambah ilmunya, maka semakin bertambah sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya.
  • Semakin bertambah amal ibadahnya, maka semakin meningkat rasa takut dan kewaspadaanya.
  • Semakin bertambah usianya, maka semakin berkurang ketamakan nafsunya.
  • Semakin bertambah hartanya, maka semakin bertambah kedermawaan dan kepeduliannya membantu sesama.
  • Semakin tinggi kududukan dan jabatannya, maka semakin dekat dengan sesama manusia, menunaikan amanahnya, memenuhi hajat orang banyak dengan sikap rendah kepadanya.

Karena orang tawadhu’ menyadari setiap yang diberikan Allah SWT adalah ujian apakah akan menjadi syukur atau kufur.

Sesungguhnya kehadiran era digital memberikan jawaban pesan-pesan kehidupan yang tertuang dalam ajaran agama Islam tentang akhlaq atau budi pekerti, baik akhlaq kita kepada Allah SWT, akhlaq kita kepada sesama manusia, aklaq kita kepada orang tua, akhlaq kita kepada guru, khlaq kita kepada alam semesta dan lingkungannya.

Kita berada dipersimpangan pergulatan sosial yang berkembang dengan maha dahsyatnya dampak penggunaan teknologi informasi yang apabila tak disadari kita terjerembab menjadi manusia ego, diam pada persolan semasa, persoalan kemanusiaan, persolan bangsa, persolan agama dan persoalan lainnya.

Teknologi informasi memang sebuah tuntutan peradaban yang tak dapat kita hentikan dan dielakkan karena sudah menjadi arus perubahan zaman. Semuanya menjadi mudah diakses hanya dengan perangkat internet, smarphone dan lainnya

Tak perlu lagi bertanya sesama, bertanyalah pada Geogle, semua yang ada dalam kehidupan tersedia begitu mudahnya tinggal meng-“klik” maka semua persoalan akan dijawab dalam sekejap.

Geogle menjadi perangkat pencari teknologi informasi yang ditemukan dua sekawan Larry Page dan Sergey Brin saat masih menjadi mahasiswa Phd Universitas Stanford AS, kemudian mendirikan Geogle, Inc pada tahun 1998 yang sebelumnya bernama Backrub karena menggunakan ‘backlink’ untuk memperkirakan seberapa penting sebuah situs.

Melesatnya teknologi informasi berbasis digital tanpa kita sadari adalah bentuk jawaban tentang pergualatan manusia dalam mengarungi hidup senantiasa membutuhkan akhlaq yang disimbolkan dengan perangkat digital dengan sentuhan-sentuhan kalbu, sentuhan kasing sayang sebagaimana layar sentuh dalam kaca smartphone, tablet, hp, dll.

Generasi Menunduk adalah generasi yang terampil dalam olah teknologi informasi, cerdas membaca perkembangan perubahan lingkungan, pekerja keras, santun dalam berbicara, bertindak dan berkhlaq mulia dalam hubungan dengan sesama manusia serta alam sekitarnya, dan berpegang erat dengan ajaran-ajaran agama Islam yang menjadi pemandu dalam mengarungi hidup di dunia ini.

Karangnangka, 17 April 2021

Kang Mul

Lahir dan dibesarkan di Banyumas.tinggal di Desa Karangnangka RT 02 RW 03 Kecamatan Kedungbanteng Menulis berita, artikel, puisi atau esai yang telah dimuat diberbagai majalah, tabloid, surat kabar, bulletin cetak/online di tanah air. Membukukan tulisan berjumlah 8 buku.

Kesibukan sehari hari menjadi tukang bibit tanaman buah dan owner “Kang Mul Nursery ” Kranggan dan Karangnangka.

Berita sebelumyaAlbert Einstein (1879 – 1955)
Berita berikutnyaKADES ANYAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

error: Konten ini tidak bisa di copy !!