Senin, Mei 31, 2021
BerandaHumanioraSejarahDirgahayu Surabaya ke-728

Dirgahayu Surabaya ke-728

fokusbanyumas.id, Sejarah – Kota Surabaya yang merupakan ibu kota Jawa Timur yang sekaligus menjadi kota metropolitan terbesar setelah kota Jakarta. Di Surabaya inilah pusat perekonomian tercipta seperti bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Jawa Timur. Kota ini terletak di sebelah timur Jakarta dan barat laut Denpasar, Bali. Kota ini berhadapan langsung dengan laut Jawa.

Asal-usul Surabaya dikutip pada laman wikipedia, dari bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I, berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Brantas dan juga sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang daerah aliran sungai Brantas.

Surabaya juga tercantum dalam pujasastra Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca yang bercerita tentang perjalanan pesiar Raja Hayam Wuruk pada tahun 1365 M dalam pupuh XVII (bait ke-5, baris terakhir).

Walaupun bukti tertulis tertua mencantumkan nama Surabaya berangka tahun 1358 M (Prasasti Trowulan) dan 1365 M (Nagarakretagama), para ahli menduga bahwa wilayah Surabaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat budayawan Surabaya berkebangsaan Jerman Von Faber, wilayah Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan pada tahun 1270 M. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa Surabaya dahulu merupakan sebuah daerah yang bernama Ujung Galuh.

Versi lain menyebutkan, Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup-mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan pasukan Kekaisaran Mongol utusan Kubilai Khan atau yang dikenal dengan pasukan Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu buaya, Jayengrono semakin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, maka diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu sura.

Adu kesaktian dilakukan di pinggir Kali Mas, di wilayah Peneleh. Perkelahian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal setelah kehilangan tenaga.

Nama Surabhaya sendiri dikukuhkan sebagai nama resmi pada abad ke-14 oleh penguasa Ujung Galuh, Arya Lembu Sora.

Sejarah Kota Surabaya Sebelum Datangnya Penjajah Belanda

Sejarah Kota Surabaya Sebelum Datangnya Penjajah BelandaKonon Surabaya adalah gerbang Kerajaan Majapahit yang muaranya di Kali Mas. Pada 31 Mei 1293 menjadi kemenangan pasukan Majapahit melawan Kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan namun pada tanggal tersebut dijadikan sebagai hari jadi kota Surabaya. Pasukan dari Raden Wijaya yang datang dari darat ini disimbolkan sebagai Baya (buaya atau bahaya). Sedangkan pasukan Mongol yang datang dari laut disimbolkan sebagai ikan Sura (ikan hiu yang berani). Sehingga apabila diartikan secara harfiah yaitu berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Pada hari kemenangan itulah diperingati sebagai hari jadi Kota Surabaya.

Saat abad ke-15, Kota Surabaya agama Islam mulai menyebar dengan pesat. Sunan Ampel yang merupakan satu diantara anggota dari walisongo, mendirikan masjid dan pesantren di wilayah Ampel. Pada tahun 1530, Surabaya menjadi salah satu bagian dari Kesultanan Demak. Surabaya menjadi sasaran utama penaklukan Kesultanan Mataram setelah runtuhnya Kesultanan Demak. Pasukan Senopati menyerbu pada tahun 1598, diserang habis-habisan oleh Panembahan Seda ing Krapyak pada tahun 1610, kemudian diserang Sultan Agung pada tahun 1614.

Puncaknya pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung yang akhirnya memaksa Surabaya untuk menyerah. Pasukan Trunojoyo dari Madura dapat merebut Surabaya tahun 1675, namun pada akhirnya harus didepak VOC tahun 1677. Dalam perjanjian pada tanggal 11 November 1743 antara VOC dan Paku Buwono II menyatakan bahwa Surabaya diserahkan kepemimpinannya kepada VOC.

Serajah Kota Surabaya pada Zaman Hindia Belanda

Serajah Kota Surabaya pada Zaman Hindia BelandaTahukah Anda bahwa nama Kota Surabaya sudah ada sejak Zaman Hindia Belanda? Sejak zaman penjajahan nama kota Pahlawan sudah ada dan bahkan masyarakat telah mengenalnya. Berikut akan dijelaskan lebih rinci mengenai sejarahnya.

Awalnya Kota Surabaya adalah ibu kota Keresidenan Surabaya pada zaman Hindia Belanda tepatnya saat colonial di negara ini. Wilayah-wilayahnya meliputi yang sekarang menjadi Kabupaten Jombang, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto. Baru setelah 1905 Surabaya menjadi kota madya atau yang disebut Gemeente.

Dan Surabaya akhirnya dijadikan sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur tahun 1926. Surabaya berkembang sangat pesat menjadi kota modern terbesar kedua setelah Batavia atau sekarang dikenal sebagai Jakarta. Tahun 1900 Surabaya hanya berpusat di sekitar Jembatan Merah namun setelah tahun 1920-an pemukiman berkembang seperti Gubeng, Sawahan, Darmo dan Ketabang. Baru tahun 1917 fasilitas-fasilitas seperti pelabuhan mulai didirikan di kota ini.

Sejarah Kota Surabaya Menurut Cerita Rakyat

Ada tiga sumber tentang asal nama Kota Surabaya. Sumber yang pertama berisi bahwa nama Surabaya dulunya Churabaya, sebuah desa untuk menyeberang di tepi Sungai Brantas. Bukti sumber tersebut adalah prasasti Trowulan I yang mencantumkan angka tahun 1358 Masehi. Sealain sumber tersebut, adapula dalam Pujasastra yakni buku Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapnca. Dalam buku itu Surabaya ditulis dalam perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan oleh Hayam Wuruk, seorang Raja dari Kerajaan Majapahit.

Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti dan sumber tersebut dibuat. Surabaya didirikan oleh Raja Kertanegara tahun 1275 silam, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M. Kejadian ini pun termuat dalam karya GH Von Faber.

Sumber lainnya menuliskan nama Surabaya berkait erat dengan cerita mengenai perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Menurut cerita, setelah mengalahkan tentara Tar  Tar (dari Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Kerajaan Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, yang sekarang adalah kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Semakin lama Jayengrono makin kuat karena sudah menguasai ilmu Buaya, lalu ia mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit. Agar bisa menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian berlangsung di Sungai Kali Mas di dekat Paneleh. Pertempuran adu kesaktian itu berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal akibat kehabisan tenaga.

Versi lainnya, kata Surabaya berasal dari sebuah mitos perkelahian antara ikan Suro dn Buaya, atau biasa disebut sebagai lambing antara darat dan laut. Hingga saat ini peristiwa itu diabadikan dalam monumen yang ada di Kebun Binatang Surabaya berada di Jalan Setail Surabaya. Versi terakhir kat Surabaya sendiri ada pada tahun 1975, yaitu saat Walikota Surabaya yang dulu, Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Hal ini berarti tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Hal ini ditentukan berdasar kesepakatan para sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.

Dalam buku-buku cerita sering diceritakan terdapat Ikan Hiu Sura dan Buaya yang selalu melakukan pertempuran. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, cerdik, ganas dan sama-sama rakus. Hampir setiap hari mereka berkelahi namun belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Hingga pada akhirnya mereka mengadakan kesepakatan.

Pertarungan kali ini semakin sengit dan dahsyat. Saling menjatuhkan dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Hanya dalam sesaat, air di sungai itu berubah merah akibat darah yang keluar dari luka-luka Suro dan Buaya. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sedikit pun. Dalam pertarungan bersejarah ini, Buaya memperoleh gigitan Hiu Sura pada pangkal ekornya sebelah kanan. Lalu, ekornya itu terpaksa selalu membengkok ke kiri. Ikan Sura akhirnya ekornya digigit Buaya hingga hampir putus, lalu ikan Sura mundur ke lautan. Buaya merasa puas karena dapat mempertahankan daerahnya.

Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh sebab itu, nama Surabaya sering dihubungkan dengan peristiwa tersebut. Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar “ikan sura dan buaya”.

Demikian sejarah Kota Surabaya dari berbagai sudut pandang yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan tentang asal mula nama kota Surabaya yang tidak semua orang tahu. (dari berbagai sumber, F12)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Sisi Lain

Most Popular

Recent Comments

error: Konten ini tidak bisa di copy !!