oleh: Ahmad Sabiq
Pernahkah Anda memasak menggunakan kayu bakar? Bagi Anda yang pernah tinggal di desa pasti akrab dengan kayu bakar. Dulu, sebelum muncul kompor berbahan bakar minyak tanah semua rumah di desa memiliki pawon, sejenis tungku dari tanah liat.
Tungku memanjang ini biasanya memiliki dua lobang di atas dan satu lubang di bawah. Lubang di atas berfungsi sebagai penopang piranti masak seperti wajan, ceret, kuali, ketel maupun dandang. Lubang di bawah digunakan sebagai tempat kayu bakar yang akan dinyalakan.
Demi mempercepat api menyala lazimnya digunakan sebuah alat yang bernama semprong. Alat dari bambu yang besarnya seukuran pegangan tangan dan panjangnya sehasta ini dipakai untuk meniup bara kayu bakar agar nyalanya semakin besar. Semprong yang sudah lama pasti ujungnya hangus menghitam akibat sering terpapar jilatan api yang memijar. Jika tak hati-hati saat meniupnya, asap dari dalam tungku bisa berbalik dan menimbulkan pedih di mata kita.


Era tungku tanah liat bertahan cukup lama bahkan setelah lenga liyun, sebutan minyak tanah di daerah asal saya, tersedia di warung-warung penduduk. Sebagian besar orang masih memilih menggunakan kayu bakar. Selain dinilai lebih hemat, dari sisi rasa makanan yang dimasak memakai kayu bakar kesedapannya tak tergantikan.
Di Banyumas ini kayu bakar punya nama sendiri. Orang menyebutnya suluh. Dalam Bahasa Indonesia, suluh berarti alat untuk menerangi. Tentu arti ini masih saling berhubungan. Kayu kalau dibakar juga bisa menimbulkan cahaya terang, seperti api unggun yang biasa dibuat orang pada saat berkemah.
Untuk bisa mendapat suluh orang harus mencarinya. Kegiatan mencari itu disini dikenal dengan istilah repek. Jadi tak akan ada suluh kalau tak ada repek. Suluh berasal dari repek. Karenanya, tak salah bila kita mengistilahkannya suluh bin repek.
Sewaktu kecil saya sering ikut pergi ke hutan bersama para santri untuk repek. Saat berada di hutan ada dua hal yang mesti kami perhatikan. Pertama, harus waspada terhadap celeng atau babi hutan. Di hutan kami masih banyak babi hutan. Tak mengherankan sering ada pemburu dari kota yang datang.
Pokoknya kalau dari dalam hutan itu terdengar ramai anjing menyalak dan sebentar-sebentar terdengar letusan senapan berarti para pemburu dan anjing-anjingnya sedang mengejar-ngejar babi hutan. Babi hutan kalau marah atau terluka sangatlah berbahaya. Ia bisa menyeruduk siapa saja yang ada didepannya. Makanya ada istilah membabi buta.
Kena seruduk babi hutan orang bisa luka parah. Sebab, babi hutan punya siung atau taring yang runcing. Ada tetangga dari desa sebelah yang harus dibawa ke rumah sakit gara-gara pahanya robek, tersayat siung saat dikejar babi hutan.
Oleh karena itu, kami diajarkan tips saat lari dari serangan babi hutan. Yang penting, kalau dikejar babi hutan jangan lari dengan arah lurus. Harus berbelok kekiri atau kekanan. Katanya, babi hutan tidak mudah melakukan manuver membelok tiba-tiba. Kalau ketemu dengan pohon yang kokoh, panjat saja. Bila obyek serangan sudah berada di luar jangkauannya, babi hutan akan pergi dengan sendirinya.


Hal kedua yang membuat kami harus hati-hati adalah polisi hutan. Di masa itu polisi hutan sangat tidak disukai oleh warga desa. Sejumlah pencari kayu pernah ditangkap dan dipenjarakan. Agar aman,kami harus memastikan hanya mengambil dahan dan ranting yang sudah kering saja. Jangan sampai memotong dahan yang masih segar.
Saya pernah menyaksikan seorang warga yang digelandang polisi hutan menuju kantor polsek yang ada di dekat kecamatan sambil membawa barang bukti sepotong dahan kayu yang ditebang. Sebenarnya ia hanyalah seorang pencari kayu bakar, tapi demikianlah hukum pada saat itu memperlakukan.
Sudah lama saya tidak mencari kayu bakar. Tapi minggu lalu, tanpa harus pergi ke hutan saya bisa repek. Ceritanya begini. Kebetulan salah satu dahan pohon kelengkeng saya mengering. Entah mengapa hanya satu dahan itu saja yang daunnya tiba-tiba menguning dan perlahan-lahan mengerontang. Akhirnya terpaksa saya pangkas agar tidak merembet ke dahan yang lain. Dahan kering itu kemudian saya potong-potong dan bisa terkumpul menjadi seonggok kayu bakar.
Kayu bakar itu saya berikan kepada Yu Sum, bukan nama sebenarnya, seorang tetangga disamping kompleks perumahan yang sampai saat ini masih sering memasak dengan kayu bakar. Ia seorang pedagang pecel dan aneka gorengan keliling. Setiap hari ia berkeliling dari kantor ke kantor sambil menggendong dagangannya di belakang punggungnya.
Yu Sum senang sekali bisa mendapat seonggok kayu bakar itu. Dikiriminya saya rempeyek hasil bikinannya. Saya juga gembira karena repek yang saya lakukan bisa turut menjadi suluh di dapur Yu Sum.
Kepada pohon klengkeng, saya mengucapkan banyak terima kasih. Bahkan di saat mengeringpun masih terus memberi manfaat. Semoga demikian pula dengan saya dan Anda.
**
Ahmad Sabiq adalah Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedirman.



