fokusbanyumas.id, Hiburan – Film ‘Tarian Lengger Maut’ merupakan salah satu dari sedikit film layar lebar yang mengangkat budaya Banyumas, setelah sebelumnya ‘Sang Penari’ dan ‘Kucumbu Tubuh Indahku’.
Film ini berkisah tentang warga desa Pageralas yang mengalami kisah misterius, dimana satu persatu warganya menghilang tanpa jejak.
Pada saat yang sama, Sukma (Della Dartyan) seorang penari yang berguru di sanggar ‘Kusuma Sekar Wana’ dibawah bimbingan seorang lengger senior, sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang lengger.
Dari awal kelahiran media gambar bergerak, film sudah terbukti merupakan alat komunikasi masa yang sangat kuat.
Sejarah mencatat bahwa film dipergunakan sebagai alat komunikasi propaganda secara masif sejak masa-masa kritis perang dunia kedua. Pada masa damai, muatan budaya populer menjadi mainstream dalam film.
Disisi lain, teknologi produksi film semakin maju dan semakin gampang diakses, sehingga memudahkan pelaku industri film Indonesia untuk mengekplorasi daya kreatifnya seiring perkembangan jumlah penonton bioskop di Indonesia.
Budaya Indonesia yang sangat beragam telah menarik banyak pembuat film untuk mengangkatnya kelayar lebar. Kebudayaan Banyumas adalah salah satu yang cukup “sexy”, tetapi jarang diangkat dalam cerita film.
Dilihat dari logat bahasa panginyongan -yang lebih populer dengan bahasa ngapak- yang sering dianggap lucu dibandingkan dengan bahasa jawa “mainstream” yang mengacu pada dialek Jogja – Solo.
Budaya ‘blakasuta’ khas Banyumasan hingga seni pertunjukan yang jauh dari pengaruh keraton, telah membentuk kebudayaan Banyumas menjadi satu warna budaya tersendiri. Sehingga memiliki potensi penonton yang banyak dikancah Film Nasional.
Diangkatnya kesenian banyumas dalam film ‘Tarian Lengger Maut’ tak lepas dari sosok Setyo Wibowo, pegiat film asal Purbalingga yang melahirkan ide cerita dalam film ini. Ditulis ulang kedalam naskah film oleh Nitalia Oetama. Bisa dibilang, ide cerita dalam film ini lahir dari putra Banyumas tulen.
Terlepas dari perdebatan bahwa lengger itu harus laki-laki, dan kalau perempuan itu dinamakan ronggeng, team produksi AENIGMA PICTURE dalam penelitian pra produksi (wawancara dengan pelaku seni lengger, dan beberapa pemerhati budaya Banyumas) menemukan bahwa mayoritas penari lengger yang ada di Banyumas adalah perempuan.
Dibalik konotasi negatif yang melekat pada seniman lengger, tim produksi ingin menyajikan sisi lain dari kesenian lengger. Dimana lengger pada hakikatnya tidak semata hanya seni pertunjukan rakyat yang mengedepankan sensualitas, tetapi lengger memiliki makna yang lebih besar dalam tatanan maayarakat agraris di Banyumas.
Disamping itu, kami meyakini bahwa kesenian yang berkembang merupakan buah dialektika yang senantiasa bergerak dinamis dalam kebudayaan suatu bangsa.
Produksi film ‘Tarian Lengger Maut’ mengambil lokasi syuting di desa Cipaku, desa Serang dan desa Bojong yang ketiganya masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Purbalingga. Masyarakat setempat ikut dilibatkan dalam produksi film ini, mulai dari katering, ‘loundry’ hingga pemeran figuran, begitu juga pemuda setempat ikut andil menjadi kru produksi film ini.
Dengan demikian, keterlibatan masyarakat desa setempat memiliki porsi yang cukup besar dalam film ini. Begitu juga kru film dan pemeran pembantu, 70% adalah tenaga segar manusia kreatif dan seniman lokal Banyumas dan Purbalingga.
Harapan kami dimasa mendatang akan lebih banyak lagi produksi film di wilayah Banyumas Raya, baik film lokal maupun film nasional, sehingga terbentuk simpul industri film Banyumas yang bisa diperhitungkan dikancah perfilman Indonesia.
Purwokerto, 2 Mei 2021

Eye Supriyadi
Produser Film Tarian Lengger Maut


