fokusbanyumas.id, Banyumas – Kabar gembira bagi para pegiat Wisata desa di wilayah Kabupaten Banyumas. Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Budaya (Dinporabudpar) sudah memberikan ijin buka bagi seluruh objek wisata di pedesaan baik di Desa Wisata maupun objek wisata lain di desa.
“Pada prinsipnya semua desa wisata sekarang sudah diperbolehkan buka, dengan menerapkan protokal Covid-19 dan ijin yang dikeluarkan oleh gugus Covid-19 Banyumas, melalui tim verifikasi yang kami bentuk,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinporabudpar, Wahyono.
Wahyono mengatakan, untuk menunjang kenyamanan pengunjung, pihaknya juga tengah memfasilitasi dan membantu pembuatan izin homestay yang ada di sejumlah titik objek wisata desa.
“Sampai saat ini sudah kurang lebih 80 homestay yang sudah kami fasilitasi perijinannya,” kata Wahyono.
Selain membantu dan membuatkan perijinan, kata Wahyono, pihaknya juga memberikan pendampingan kepada pengelola desa wisata untuk mempromosikan guna mendatangkan pengunjung.
Data di Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Parisiwata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas menyebut sudah 15 di Kabupaten Banyumas terdaftar sebagai Desa Wisata. Lokasinya tersebar di setiap kecamatan, dari ujung perbatasan empat penjuru arah. Dari ujung paling barat ada Cirahab dan Samudera Kecamatan Gumelar.
Lalu Desa Darmakradenan (Ajibarang), Petahunan (Pekuncen) Cikakak (Wangon), Karangkemiri (Karanglewas), Karangtengah (Cilongok) Melung dan Kemutug lor (Baturaden), Kalisalak (Kebasen). dan Banjarpanepen (Sumpiuh) Kemudian Desa Karanggintung di Sumbang, Karangsalam di Kedung Banteng dan Gerduren di Purwojati.
Desa wisata yang disebutkan Dinporabudpar Banyumas, merupakan komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama dengan menyesuaikan keterampilan individual berbeda.
Objek wisata di desa wisata yang terdapat di Kabupaten Banyumas menawarkan banyak ragam. Tidak melulu menyajikan keindahan alam kawasan lereng Slamet yang memang punya ciri khasnya, namun juga perkembangan sumber daya manusia yang mampu meramu potensi desa yang semula biasa menjadi objek wisata nan luar biasa.
Di luar desa-desa yang disebut sebagai desa wisata, tidak sedikit desa-desa lain yang mulai ‘naik daun’ setelah memiliki objek wisata baru. Baik desa yang menggali potensi alamnya, maupun desa yang menciptakan objek Wisata artifisial (buatan).
Sayangnya, ketenaran mereka terhempas ketika wabah Pandemi Covid-19 melanda tanah air. Selain karena pembatasan aktivitas sosial masyarakat, pembenahan objek wisata yang belum sepenuhnya rampung memerlukan biaya yang tak sedikit. Sedangkan dana desa yang awalnya sudah dialokasikan untuk pembangunan fisik, harus dialihkan untuk penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19.

