fokusbanyumas.id, Banyumas memiliki banyak objek wisata yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Tren objek wisata desa yang dikelola oleh pemerintah desa menjadikan Banyumas semaki kaya akan potensi pariwisata.
Namun, sejak Pandemi melanda negeri, objek wisata menjadi sektor yang pada akhirnya harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit. Perekonomian yang masih jauh dari kondisi stabil, kebijakan pembatasan, dan aturan lain, adalah kenyataan yang tak bisa dihindari oleh para pengelolanya.
Data di Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Parisiwata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas menyebut sudah 15 desa masuk kategori Desa Wisata. Tersebar di setiap kecamatan, dari ujung perbatasan empat penjuru arah. Objek wisata di desa wisata yang terdapat di Kabupaten Banyumas menawarkan banyak ragam. Tidak melulu menyajikan keindahan alam kawasan lereng Slamet yang memang punya ciri khasnya, namun juga perkembangan sumber daya manusia yang mampu meramu potensi desa yang semula biasa menjadi objek wisata nan luar biasa.
Di Desa Cirahab Kecamatan Lumbir, misalnya, Wisata Gunung Batur adalah objek wisata alam yang dikembangkan pihak desa setempat dan berhasil menciptakan sebuah objek yang mengangumkan. Dengan menyuguhkan keindahan pemandangan alam yang sangat indah serta masih asri dan alami, objek wisata ini tetap memperhatikan faktor kekinian. Sebut saja dengan adanya spot foto yang memang sedang digemari kalangan milenial untuk melengkapi koleksi foto-foto mereka dalam beragam platform media sosial. Juga ada Camping Area dan Wisata Kuliner.
Itu baru Cirahab. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Kabupayen Banyumas, Wahyono menyebutkan, ada 14 objek wisata yang masuk kategori desa wisata dengan menawarkan berbagai objek yang menarik.
“Kita bisa melihat bagaimana keindahan dalam kemasan objek wisata sudah terdapat Samudra, Darmakradenan, Petahunan Cikakak, Karangkemuri, Karangtengah, Melung, Kemutug lor, Kalisalak dan Banjarpanepen. Juga masih ada di Karanggintung,
Karangsalam dan Gerduren,” kata Wahyono.

Itu baru 15 desa yang sudah tercatat di Dinporabudpar. Sejumlah desa di Banyumas sejatinya banyak yang mempersiapkan diri mengembangkan desa mereka dengan mengoptimalkan potensi masing-masing. Di Kecamatan Ajibarang, di sana bahkan terdapat dua objek wisata di satu desa. Hutan Pinus Sawangan dan Hutan Jati Sawangan. Di Kecamatan Cilongok, ada dua objek wisata alam di Desa Sambirata yakni Telaga Kumpe dan Telaga Gondang. Di Sokawera ada bukit Pramuka yang disebut punya nilai instagramable tinggi.
“Ketika kita ke Desa Pernasidi Kecamatan Cilongok di sana juga ada tempat makan dengan suasana alam desa yang khas, namanya Jegangan. Di sebelahnya ada Desa Rancamaya yang sedang menyelesaikan proyek Wisata Mangku,” kata Wahyono.
Lalu, bagaimana nasib mereka ketika Pandemi masih belum jelas kapan akan berakhir?
Wahyono mengatakan, strategi dari pemerintah dengan tujuan menjaga eksistensi objek wisata di desa-desa diantaranya dengan mengatur syarat-syarat tertentu sesuai surat edaran Bupati Banyumas agar bisa tetap beroperasi.
“Kegiatan promosi sudah pasti kita ikut membantu. Fenomena kemunculan objek wisata desa di Banyumas juga mengandung kearifan lokal sebagai muatan utama yang di sana punya spesifikasi untuk daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” kata Wahyono.
Pemerintah daerah, kata Wahyono, juga menerapka strategi lain dalam bentuk memberika ijin homstay untuk kemudahan akomodasi.
“Kami juga mensupport dengan cara agar objek wistaa desa mampu menumbuhkan budaya lokal dan kuliner lokal,” kata Wahyono.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kabupaten Banyumas, Sopan Sunaropat mengungkapkan, pandemi memang menjadi hambatan besar untuk perkembangan wisata lokal khususnya di desa-desa baik yang sudah selesai penggarapannya, maupun desa yang sedang dalam proses.
“Karena pandemi tak bisa kita hindari, sedangkan rencana dan cita-cita haruslah terwujud maka yang dibutuhkan adalah sikap sabar, dan tetap yakin bahwa buah karya yang dihasilkan nantinya tetap akan menjadi sesuatu yang menarik, dalam hal ini bagi wisatawan lokal hingga mancanegara,” kata Sopan yang juga owner Jegangan.

