fokusbanyumas.id, Alkisah, jaman dahulu kala ada sebuah pertapan di Gunung Sukendra yang dihuni oleh seorang resi yang bernama Resi Gotama dengan keluarganya. Resi Gotama adalah keturunan Betoro Ismoyo putra dari Prabu Haeryo dari kerajaan Mahespati.
Karena jasa dan baktinya kepada para dewa, Resi Gotama dianugerahi seorang bidadari dari kayangan yang bernama Dewi Windradi. Dari perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu Dewi Anjani, Sugriwo dan Subali.
Setelah sekian tahun lamanya Dewi Windradi tergoda oleh Betoro Suryo (Batara Surya) hingga terjalin hubungan terlarang antara Dewi Windradi dengan Betoro Suryo.
Sebagai tanda cintanya, Betoro Suryo memberikan pusaka kedewaannya yang bernama Cupu Manik Astagina kepada Dewi Windradi, dan berpesan agar tidak memberitahukan pusaka itu kepada orang lain termasuk anak-anaknya.
Hubungan terlarang itupun akhirnya terkuak setelah tanpa sengaja cupumanik tersebut diberikan kepada Dewi Anjani yang memicu pertengkaran dengan kedua saudaranya.
Karena pertengkaran itulah Sang Resi pun akhirnya tahu kesalahan besar yang dilakukan istrinya dan Sang Resi akhirnya mengutuk Dewi Windradi menjadi batu.
Sementara demi keadilan terhadap ketiga anaknya, cupu manik itupun dibuang dan bersabda, barang siapa yang mampu menangkap cupu manik maka dialah yang berhak memilikinya.
Ketiga anaknya pun lalu mengejar cupu manik yang dilemparkan Sang Resi dan ternyata cupu manik tersebut jatuh disebuah telaga.
Cerita tentang Cupu Manik Astagina yang menjadi rebutan ketiga anak Resi Gotama inilah melatarbelakangi keberadaan Panembahan Beji di Grumbul Wanacala, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
Dengan diantar Sudiryanto, salah satu warga setempat dan Mbah Tarmono Gadal kasepuhan asal Ketanda Sumpiuh, Tim Fokus Banyumas mengunjungi tempat tersebut.
Panembahan Beji berupa tatanan batu persegi dan ditandai dengan pohon bulu yang sudah berumur ratusan tahun.
Panembahan ini oleh masyarakat sekitar diyakini sebagai tempat Dewi Anjani bertapa Singgang Rambut hingga akhirnya melahirkan seorang kesatria pilih tanding bernama Anoman.
Menurut cerita, Dewi Anjani konon turut memperebutkan dan mengejar Cupumanik Astagina yang dibuang dan masuk ke Telaga (Beji).
Konon Guwarsa dan Guwarsi yang menyelam untuk mencari Cupumanik berubah menjadi kera (monyet) sedangkan Dewi Anjani yang hanya menunggu di pinggir telaga sembari mencuci muka, hanya berubah pada bagian wajahnya saja.
“Jadi menurut cerita para pinisepuh terdahulu, di tempat inilah Dewi Anjani bertapa untuk menebus kesalahan dan menghilangkan kutukan,” kata Mbah Tarmono Gadal.
Dewi Anjani yang bertapa Singggang Rambut tersebut konon hanya boleh makan dan minum apa yang jatuh dari atas.
Pada masa bertapanya, ia pun kejatuhan daun asam muda yang kemudian ia makan. Setelah memakan daun asam muda tersebut, Dewi Anjani pun mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Anoman.
Tidak hanya menyimpan cerita tentang Dewi Anjani yang bertapa, di Panembahan Beji juga menyimpan keanehan-keanehan lain, dimana disetiap bulan maulid ada dua ekor kera yang berkeliaran di lokasi tersebut.
Kedua kera yang sebenarnya berpasangan tersebut akan masuk ke lingkungan panembahan, biasanya setelah hari raya Maulid. Sebelumnya mereka akan berkeliaran diluar lingkungan panembahan.
“Setiap tahun pasti ada monyet disekitaran panembahan. Yang sering sih paling lama tiga minggu, trus mereka akan mati tidak jauh dari panembahan,” ucap Sudiryanto.
Panembahan Beji sampai saat ini masih menjadi tempat ziarah bagi masyarakat sekitar dan masyarakat luas pada umumnya.
Pengunjung biasanya datang ke panembahan pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, dan akan lebih ramai pengunjung pada bulan Muharrom atau Sura.

