Minggu, Agustus 14, 2022
BerandaNasionalEkonomiKail Untuk Pandai Besi, Guna Menempa Pandemi

Kail Untuk Pandai Besi, Guna Menempa Pandemi

fokusbanyumas.id, Banyumas – Dua bulan terakhir ini Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Jateng, kembali berisik dengan bengkel pandai besi.  Suara mesin tempa sahut-menyahut antar rumah, salah satunya di rumah Nursamsi warga RT 3 RW 1 Desa Pasir Wetan.

Sudah 25 tahun Nursamsi menjadi pandai besi, sebelum terjadi pandemi dirinya mampu menyelesaikan permintaan membuat golok dan pancong hingga 40 buah setiap hari. Karena terpaaan badai pandemi, permintaan turun menjadi 20 buah setiap harinya.

Melihat semakin menurunnya pesanan, tetapi di sisi lain, pandai besi yang lain di Desa Pasir Wetan terutama yang tergabung dalam Paguyuban Pandai Besi Gayeng Ruyeng mampu bertahan. Sehingga Nursamsi sejak akhir 2020, mendaftar menjadi anggota Paguyuban yang dibina langsung oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).

“Naik turun omset dan pendapatan itu memang sudah biasa, cuman ketika kita menghadapi pandemi memang sedikit menjadi masalah. Termasuknya omset jadi nurun, biasanya ada yang minta dua kodi sekarang paling satu kodi. Bahan baku besi juga mengalami kenaikan harga, enggak seperti dulu,” Kata Nursamsi.

Satu persatu besi membara ditempa, kemudian dimasukan kembali dalam tungku. Nantinya besi yang membara ini dibuat golok, sabit dan peralatan pertanian lainya.

Terlihat seorang lelaki muda berusia 25 tahun, sedang mengawasi sejumlah pekerja melakukan proses penempaan besi. Dialah Fajar Triangoro Ketua Paguyuban Gayeng Ruyeng.

Menurut Fajar, pandemi Covid-19 memporak-porandakan usaha pandai besi. Seperti dirinya yang membuat alat pertanian, pisau untuk keperluan dapur rumah tangga omsetnya turun drastis. Dari Rp20 juta setiap bulan, menjadi Rp5 juta setiap bulan.

Disebabkan selain permintaan turun drastis dari pengepul alat pertanian dan pisau dapur, juga akibat penutupan pasar seiring pemberlakukan PPKM di Indonesia.

Beruntung Kasus Covid-19 mulai mereda sejak September 2021, sehingga permintaaan alat–alat pertanian mulai meningkat lagi dan saat ini omset sudah pada kisaran Rp10 juta setiap bulannya.

“Awal pandemi omset kita jatuh banget, yang biasanya omset kita Rp20 juta menjadi Rp10 juta. Kemudian saat PPKM diberlakukan jadi jatuh lagi hingga Rp5 juta perbulan. Padahal saya punya karyawan empat,” kata Fajar.

Bertahan di kala pandemi, Fajar bersama dengan sejumlah Pandai Besi di Desa Pasir Wetan,  membentuk paguyuban tepatnya pada Maret 2020. Hingga kini sudah ada 21 Pandai Besi yang tergabung dalam Paguyuban. Dari Paguyuban ini, kemudian membuat jejaring pemasaran, informasi produk dan standar produk. Hingga akhirnya dibina oleh YDBA, tidak lama setelah Gayeng Ruyeng didirikan.

Menurut Fajar, YDBA lebih banyak memberikan pelatihan standarisasi produk, manajemen pembukuan, hingga manajemen pabrik. Selain itu, YDBA mengenalkan dan membawa pengusaha ke Pandai Besi Pasir Wetan, sehingga tercipta kerjasama bisnis.

Diantaranya penyedian alat-alat pertanian, untuk perusahaan perkebunan dan pertanian  perusahaan group Astra. Selain itu, dilatih untuk membuat kerajinan senjata tradisional. Seperti pembuatan samurai, hingga kudi (senjata tradisional Banyumas).

“YDBA ini membantu kami memperluas relasi, sehingga pesanan naik di luar pesanan para pengepul. Kita dilatih pengenalan logam, standarisasi produk, dilatih juga agar bengkel harus tertata rapi dan sebagainya. Kalau dulu teman-teman mendapat pembinaan pikirannya pasti dapat uang saku lah atau apa. Nah kalau Astra ini lebih kepada pelatihan, sehingga meningkatkan kualitas dan teman- teman sekarang sudah berubah pikirannya karena Astra,” kata Fajar beberapa hari lalu.

Dampak positif lainnya pembinaan oleh YDBA  mampu bertahan menghadapi pandemi, sehingga ketika kasus Covid-19 mulai turun di Indonesia. Usahanya dengan cepat bisa bangkit, untuk memenuhi permintaan pasar. Bahkan omset sudah mencapai 50-70  persen seperti  saat sebelum pandemi.

“Keuntungan dibina oleh Astra, yang jelas tali silaturahmi antar anggota terjaga. Dulu kita saling merahasiakan produk antar pandai besi, sekarang kita diskusi bareng menghasilkan produk yang berkualitas. Kita saling membantu menghasilkan produk sesuai standar, agar seluruh anggota paguyuban bisa menghasilkan produk yang sama-sama baik,” ungkap Fajar di bengkel pandai besi yang berada di samping rumah orang tuanya.

YDBA Beri “Kail”

Fasilitator Lembaga Pengembangan Bisnis YDBA Debora Agnes mengatakan Paguyuban Gayeng Ruyeng menjadi salah satu UMKM binaan di Banyumas. Dengan tujuan mengembangkan produk, meningkatkan pemasaran, hingga pembentukan standarisasi produk.

Salah satu cara yang dilakukan yakni membuat pelatihan berkelanjutan bagi anggota Paguyuban, selain itu memperkenalkan produk dan memasarkan produk pandai besi Paguyuban ke kelompok usaha Astra.

“Kami punya prinsip beri kail bukan ikan, pandai besi Gayeng Ruyeng sudah mendapat beberapa pelatihan dan pendampingan. Kami juga ada program, fasilitasi pemasaran dan fasilitasi pembiayaan. Pelatihan yang sudah dilaksanakan diantaranya fasilitasi manajemen, itu ada mentalitas dasar, pembukuan sederhana,” kata Debora.

“Kemudian untuk teknisnya sendiri, kami sudah melakukan pelatihan pengenalan bahan dan teknik tempa. Kami juga melakukan pelatihan 5 R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin), jadi temen- temen sudah merubah mindset mereka. Sehingga sudah mulai melaksanakan 5 R,” lanjut Debora.

Suasana di bengkel pandai besi Putra Cendana  milik  Fajar Triangoro lain dari biasanya, tepatnya diakhir September 2021.  Kala itu Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, melihat dan membeli produk Pandai Besi Paguyuban Gayeng Ruyeng.

Menurut Teten dengan adanya pendampingan dan juga pelatihan dari YDBA membuat pandai besi bisa bertahan menghadapi  pandemi. Selain itu meningkatkan kualitas produk dan memperluas jejaring.

Upaya yang dilakukan YDBA memancing Kementerian Koperasi dan UKM ( Kemenkop UKM),  untuk membantu memasarkan produk pandai besi Gayeng Ruyeng di sejumlah gerai mall yang telah bekerjasama dengan pihaknya.

Selain itu, Teten mendorong tidak hanya dibentuk paguyuban, namun juga Koperasi yang mempunyai badan hukum untuk mewadahi semua kepentingan pandai besi di Desa Pasir Wetan.

“Pandai besi di Purwokerto ini sudah turun temurun, tapi selama ini konsep bisnisnya, metodologi kerjanya, masih tradisional. Saya lihat setelah didampingi oleh Astra melalui YDBA ternyata mindset mereka berubah, terlihat cara kerjanya lebih efesien,”  jelas Teten Masduki.

Pemasaran Produk Pande Besi Gayeng Ruyeng seperti, cangkul, pancong, golok, pisau dapur dan lainya saat ini tidak hanya di wilayah Jawa Tengah. Namun sudah merambah ke pulau lain di Indonesia.

Untuk harga produk yang dihasilkan oleh  pandai besi Gayeng Ruyeng diantaranya untuk alat pertanian garpu jari tiga Rp75 ribu ukuran kecil, Rp85 ribu/buah untuk ukuran besar.  Pancong ukuran besar Rp20 ribu, Pancong ukuran kecil Rp15 ribu /buah. Cangkul dengan harga Rp100 ribu /buah, Golok Rp45 ribu/ buah dan Sabit Rp70 ribu /buah.

Pandai Besi Pasir Wetan, setiap hari menempa besi untuk hidup yang lebih baik. (F12)*

Sisi Lain

Berita Populer

error: Konten ini tidak bisa di copy !!
×

Powered by WhatsApp Chat

× Hubungi kami disini